Kreativitas guru merupakan salah satu unsur penunjang dalam tercapainya keberhasilan Proses Belajar Mengajar ( PBM ). Siswa sebagai subjek merupakan pelaku pendidikan yang sekaligus dijadikan sebagai bukti pisik keberhasilan atau portofolio bagi guru, untuk mengetahui sejauh mana intensitas dan kapabilitas seorang guru dalam Proses Belajar Mengajar. Keberhasilan hasil pembelajaran ( out come ) merupakan tolok ukur kinerja seorang guru dalam penerapan PBM dan merupakan evaluasi dalam pembelajaran tuntas ( masterry learning ).
Bentuk tagihan atas keberhasilan anak didik meliputi tiga unsur utama yaitu: pertama Kognitif yang berorientasi kepada substansi atau pemahaman materi yang mengarah kepada kemampuan IQ learning, kedua Apektif yang berorientasi kepada sikap atau konsep diri , dan ketiga adalah Psikomotor yang berorientasi kepada penerapan keterampilan dari hasil pembelajaran. Ketiga unsur tersebut seyogyanya harus dimiliki oleh semua peserta didik, tetapi relita dilapangan menentukan lain hak ini tidak terlepas dari pengaruh lingkungan, status social keluarga dan sarana pendukung lainnya dan yang lebih berpengaruh lagi adalah mentalitas peserta didik itu sendiri. Sering kita menemukan ada anak yang cerdas tetapi lemah dalam keterampilan baik itu olah raga maupun seni, dan sebaliknya ada anak yang mahir dalam olah raga / seni tetapi lemah dalam intelegensinya, belum lagi sikap anak yang berpariasi seperti urakan, ingin diperhatikan teman atau guru, pendiam, usil dan lain-lain.
Dari contoh kasus di atas seorang guru dengan profesionalitasnya harus mampu menempatkan siswa sesuai dengan kemampuannya atau bidang unggulan dari masing masing peserta didik. Dalam hal ini peranserta guru untuk menempatkan peaerta didik sesuai bakat dan minat siswa, sangat di perlukan bahkan merupakan paktor penting dalam keberhasilan siswa. Kegiatan pembelajaran di sekolah meliputi tiga tahapan diantaranya : 1) tahap pengenalan materi yang korelasinya kepada tujuan yang harus di capai, 2) tahap penyampaian materi yang berkorelasi kepada pembelajaran tuntas mastery learning, dan 3) tahap penerapan materi berkorelasi kepada bentuk tagihan atau evaluasi.
Letak Geografis suatu sekolah tidak menjadikan suatu masalah yang signifikan dalam mencapai mutu pendidikan optimal, sepertihalnya SD Linggajaya merupakan sekolah yang berada jauh dari pusat kota kecamatan, namun berkat kegigihan dan kerja keras kepala sekolah dan guru serta peran serta masyarakat selaku komite sekolah dan UPTD Pendidikan melalui konsultan pendidikan yaitu para pengawas, mampu membuktikan secara kasat mata keberhasilan sekolah dalam bidang kreativitas siswa yang dibuktikan melalui kejuaraan yang di raih oleh para siswa dalam bidang lomba mata pelajaran, seni keterampilan dan olah raga. Keberhasilan SDN Linggajaya tampak terlihat sejak tahun 2005 sebagai peringkat ke 16 dari 21 SD se kecamatan Ciwaru dan berubah drastis sampai sekarang menjadi peringkat ke 2 atau 3 tingkat kecamatan. Keberhasilan ini merupakan wujud dari kesungguhan dan profesionalitas guru yang bekerja secara maksimal sesuai proforsinya. Sebagai kelanjutan dari keberhasilan siswa tingkat kecamatan yaitu peraihan prestasi di tingkat kabupaten, wilayah tiga Cirebon dan bahkan sampai peringkat ke tiga lomba Biantara Sunda dalam Pasanggiri dan Apresiasi Bahasa , Sastra dan Seni Daerah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar